Ketika jarak dan waktu
bukan menjadi halangan, melainkan menjadi spirit dan doa bagi dua insan yang
sedang berjuang bersama.
Selasa, 26 Juli 2016
Selasa, 31 Mei 2016
Kisah Teladan
Kisah Teladan
Keteladanan Fathimah binti Rasulillah
Fathimah binti Raulillah, dia adalah seorang wanita yang zuhud,
taat serta sabar dalam perjuangan menegakkan agama Allah, baik dengan tenaga
maupun jiwanya. Kefakiran di dalam rumah tangganya tidak dijadikan alasan untuk
putus asa, justru menjadi motivasi dalam pengabdian diri kepada Allah maupun
suaminya. Keteladanan agung yang diberikan Fathimah, bisa dicermati dari kisah
yang diketengahkan Abu Warad bin Tsumamah, yang menerangkan bahwa Ali bin Abi
Thalib telah berkata kepada Ibnu A’bad ; “Ya Ibna A’bad, maukah aku kabarkan
kepadamu tentang kehidupanku dengan Fathimah binti Rasulillah, yang dia adalah
anggota keluarga yang dicintai Rasulullah?” Aku (Ibnu A’bad) berkata: “Ya Ali,
tentu saja aku merasa senang mendengarnya.” Ali mulai bercerita: “Fathimah
menggiling tepung, hingga membekas di tangannya. Dia mengambil air dengan
geriba, hingga membekas di pundaknya. Dan dia menyapu rumah, hingga bajunya
berdebu. Suatu saat Rasulullah dihadiahi pembantu oleh seseorang. Lantas aku
berkata kepada Fathimah: “Ya Fathimah, bagaimana bila engkau datang menemui
ayah, meminta pembantu itu?” Fathimah pun kemudian datang menghadap ayahanda,
akan tetapi dia menemukan Rasulullah sedang sibuk sekali. Lalu dia kembali
dengan tangan kosong. Esok harinya, Rasulullah datang ke rumah, seraya
bersabda: “Ya Fathimah, kemarin engkau datang. Ada perlu apa?” Fathimah
terdiam. Lalu aku katakan: “Ya Rasulullah, aku yang akan menyampaikannya. Fathimah
menggiling tepung, hingga membekas di tangannya. Mengambil air, hingga membekas
di pundaknya. Dia menyapu rumah, hingga bajunya berdebu. Ketika ada pembantu
datang, aku menyuruhnya agar datang menghadap kepada engkau untuk meminta
pembantu itu, agar dia tidak mengerjakan pekerjaan berat yang selama ini dia
kerjakan.” Rasulullah lantas bersabda: “Ya Fathimah, bertakwalah kepada Allah. Tunaikanlah
kewajiban terhadap Tuhanmu, kerjakanlah tugas rumah tanggamu, dan ketika engkau
merebahkan tubuh (hendak tidur), bacalah tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid
tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, yang kemudian disempurnakan
hingga seratus kali dengan ditambah tahlil satu kali. Hal itu lebih baik bagimu
daripada seorang pembantu.” Fathimah kemudian berkata: “Aku ridho kepada Allah
dan Rasul-Nya, dan tidak memerlukan lagi seorang pembantu.”
Di atas adalah ilustrasi dari kesabaran seorang istri shalihah
dalam melayani kebutuhan suami. Meskipun tugas itu terasa sangat berat, namun
tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah, tidak sombong dan tidak tinggi hati,
sekalipun dia seorang anak dari manusia paling mulia, Rasulullah shallallahu
“alaihiwa sallam. Dia melayani suami
dengan tangan sendiri, tidak menuntut untuk dicarikan pembantu, yang bahkan
akan menambah beban suami dan menyulitkan hidupnya. Yang dia pertahankan
hanyalah keridhaan suami, karena dia sadar, bahwa sorga seorang wanita berada
dalam keridhaannya.
Keteladanan Zainab (istri Abdullah bin Mas”ud)
Sikap sabar dalam menghadapi kemiskinan suami, telah ditunjukkan
dengan begitu jelas oleh Zainab. Dia rela hidup dalam kekurangan, bahkan kesabarannya
dalam menopang kebutuhan hidup keluarga telah dia buktikan, dengan kerelaan
hati menjual perhiasannya. Betapa mulia seorang istri yang memiliki sikap sabar dan murah hati, dan betapa
bahagia yang memiliki istri semisal Zainab Ats-Tsaqafiyah. Dia pernah
menuturkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: “Wahai kaum Wanita, bersedekahlah sekalipun
dengan perhiasan kalian.” Lantas aku pulang “Ya Abdullah bin Mas,ud dan aku katakan kepadanya:
Ya Abdallah, engkau seorang lelaki lemah dan butuh pertolongan. Rasulullah
telah memerintahkan agar bersedakah. Ya Abdallah,
datanglah kepada Rasulullah dan tanyakan, apakah engkau boleh menerima sedekah dariku yang istrimu ini. Bila tidak boleh, maka aku akan bersedekah
kepada orang lain. Jawab Abdullah bin Mas’ud: “Ya Zainab, temui sendiri sajalah
Rasulullah.” Lantas aku berangkat, ternyata di depan pintu rumah Rasulullah
sudah ada seorang wanita Anshor yang menunggu, dan keperluannya sama dengan
keperluanku. Ketika iru Rasulullah sedang terganggu kesehatannya, hingga yang
keluar Bilal.
Kepada Bilal aku katakan: “Ya Bilal, temuilah Rasulullah, dan beritahukan
bahwa ada dua orang wanita di depan pintu, menanyakan kepadamu, apakah
diperbolehkan sedekah mereka diberikan kepada suami atau anak yatim di rumah
mereka sendiri. Dan jangan kabarkan kalau yang datang adalah kami” Setelah Bilal
menyampaikan berita, Rasulullah bertanya: “Siapakah mareka?" Jawab Bilal:
“Seorang Wanita Anshor dan Zainab”. Lalu Rasulullah bertanya lagi Zainab yang
mana?” Jawab Bilal: “Zainab istri Abdullah bin Mas'ud.” Lantas Rasulullah
bersabda: “Mereka mendapatkan dua pahala: pahala kekerabatan dan pahala
sedekah.” Inilah contoh kesetiaan dan kesabaran seorang istri terhadap suami
yang lemah ekonomi, karena sedekah kepada suami dibenarkan pula oleh ajaran
Islam. Zainab adalah sosok wanita sabar dan setia terhadap suami, sekalipun
suaminya lemah ekonomi lagi papa.
Penuturan di atas, adalah cermin keagungan istri dalam mencetak generasi
berkualitas, baik dari kalangan kaum wanita maupun kaum lelakinya. Istri shalihah
senantiasa berupaya menciptakan hubungan suami-istri yang baik atas dasar kasih
sayang dan ketulusan hati. Sebagai suami, bersedia mencurahkan segala kemampuan
dan potensi dengan penuh kemurahan dan ketulusan hati untuk membahagiakan
istri,sementara sang istri bersabar terhadap kekurangan yang ada pada diri
suami. Dia tidak menuntut sesuatu terhadap suami di atas kewajaran, tidak rakus
dan tidak ambisi terhadap gemerlapnya harta kekayaan, serta tidak mudah iri hati
terhadap sesuatu yang berada di tangan orang lain. Bahkan kedalaman cinta kasih
seorang istri direflekasikan dalam bentuk pemberian bantuan kepada suami, dan
menghibumya dengan mengorbankan harta yang paling berharga sekalipun, baik
berupa perhiasan maupun yang 1ain, dengan maksud agar kebahagiaan rumahtangga
bisa dinikmati bersama.
Dalam kehidupan umat manusia, sangat dibutuhkan adanya contoh teladan dalam
meraih suatu kebahagiaan. Lebih-lebih bagi istri yang ingin mencari keshalihahan
dalam berbakti kepada suami. Apa yang telah diketengahkan di atas, adalah
contoh-contoh keteladanan dari para wanita yang telah mampu menebarkan
kebahagiaan dan kedamaian di atas persada dunia. Mereka adalah profil istri
shalihah yang telah berhasil mempersembahkan kepada suami kebahagiaan, kedamaian,
ketentraman, serta mampu meredam derita dan kegelisahan. Dalam pada itu, perlu
dicatat tentang beberapa hal yang dapat dipetik dari keteladanan mereka, yang
kemudian dihayati, direnungkan, dan dilaksanakan oleh setiap istri shalihah,
hingga kebahagiaan dan kedamaian benar-benar tercipta dalam rumah tangganya.
Doc : K.L/I/6/16/Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya. A. Mudjab Mahali
Krisis Moral
Krisis Moral ?
Ya
itulah Indonesia saat ini, negara ini sedang dilanda krisis moral, kemerosotan
akhlak. Budi pekerti yang diagung-agungkan sejak dahulu seakan-akan sirna,
budaya ke-timuran yang luhur perlahan-lahan hilang. Kita bisa melihat sekarang,
banyak sekali kasus pelecehan, pembunuhan, pencurian dll dilakukan oleh para
remaja, bahkan anak-anak. Mereka adalah generasi penerus bangsa ini, kalau
generasi penerus bangsa ini sudah memiliki akhlak yang kurang baik, bagaimana
kah kedepannya? kemanakah negara ini akan dibawa? Tanggung jawab siapa?
Semua
itu adalah tanggung jawab bersama, pendidikan agama dan akhlak kepada generasi
penerus bangsa ini wajib kita tanamkan sejak sedini mungkin. Apakah hanya
tanggung jawab orang tua? Tidak, memang orang tua lah yang bertanggung jawab
kepada mendidik anak agar menjadi manusia yang shalih-shalihah, berakhlak mulia
dan berguna bagi bangsa-negara. Semua pihak harus bertanggung jawab dan saling
bahu membahu demi generasi penerus kita. Keluarga, masyarakat, sekolah,
pemerintah semuanya harus turut andil di dalam membangun karakter generasi
penerus. Semua ini semata-mata demi generasi penerus bangsa ini yang religius,
berakhlak mulia, dan mandiri, Karena
mereka lah pemegang tongkat estafet selanjutnya, baik bagi agama, keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara ini.
Memilih Pasangan Hidup
Memilih Pasangan Hidup
Pernikahan
merupakan sunatullah yang harus dijaga kelestariannya. Karena itu, di dalam
Al-Qur’an Allah telah menegaskan : “Maka nikahilah olehmu sekalian
perempuan-perempuan yang kalian sukai : dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian
takut tidak dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang perempuan saja.” (QS.
An-Nisa’:3)
Disyariatkannya
pernikahan terkandung maksud agar agama seseorang semakin sempurna. Tapi, kini
telah banyak manusia yang memilih kedudukan dan martabat dunia. Bukan hal yang
mengherankan bila kini banyak terjadi perceraian. Mereka memandang bahwa hidup
adalah uang dan kemegahan. Harta, tahta, dan wanita sebagai tolak ukur
keberhasilan dalam mengarungi hidup, hingga dalam memilih jodoh selalu
mengutamakan kekayaan material, keturunan dan kecantikan. Bagi mereka, hal
tersebut merupakan prestise dalam mengarungi kehidupan di tengah masyarakat.
Agama dan akhlak bukan lagi dijadikan ukuran, bahkan cemoohan. Dengan harta dan
tahta mereka merasa hidup aman dan tenteram, terlepas dari belenggu kemiskinan
dan kehinaan.
Rasulullah
sangat menganjurkan kepada umatnya untuk memilih pasangan yang kuat agama dan
mulia akhlaknya. Beliau memperingatkan, jangan sampai memilih pasangan hidup
berpaling dari masalah agama dan akhlak. Sebab bila berpaling, di kemudian hari
akan berakibat munculnya fitnah dan kehancuran dalam rumah tangga. Keluarga
yang harusnya diselimuti kebahagiaan akan berbalik menjadi sebuah kehancuran,
lantaran salah satu dari pasangan suami-istri tidak berpegang teguh pada ajaran
agama. Sebab ukuran kebahagiaan baginya hanya diukur ddengan kedudukan, harta,
kecantikan, kegantengan atau lain. Akibatnya, bila semua itu sirna, keluarga
akan berantakan. Lain halnya bila kebahagiaan diukur dengan agama dan akhlak
mulia, semuanya tidak akan pernah sirna.
Memilih Karena Agama
Memilih
karena agama, ini adalah faktor terpenting di dalam memilih pasangan hidup,
suami-istri. Karena Islam adalah agama fitrah, yang sudah pasti mengedepankan
kesucian, kemuliaan akhlak, dan nilai-nilai luhur dalam memilih segala sesuatu.
Terlebih di dalam memilih pasangan hidup, harus memilih laki-laki yang shalih
dan perempuan yang shalihah.
Bagi Laki-Laki :
“Sungguh
dunia adalah harta kekayaan. Dan tidak ada harta kekayaan yang lebih berharga
daripada wanita shalihah.” (HR. Ibnu Majah)
Wanita
dinikahi oleh seorang lelaki karena empat hal. Dalam hal ini Rasulullah telah
menegaskan “Seorang wanita dinikahi karena empat hal: Karena kekayaannya,
karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Barang siapa
lebih mengutamakan memilih agama, maka dia akan mendapatkan kemuliaan. (HR.
Bukhari dan Muslim). Rasulullah memberikan penilaian, bahwa wanita shalihah
adalah karunia terbesar bagi seorang laki-laki.
“Setelah
bertakwa kepada Allah, seorang mukmin tidak akan mendapatkan suatu faedah
kecuali mempunyai istri yang shalihah. Yakni apanila diperintah, taat. Bila
dipandang, menyenangkan. Bila dijanji pada awal pernikahan, menetapi. Dan bila
ditinggal suami, menjaga kehormatan diri dan harta kekayaan suami.” (HR. Ibnu
Majah)
“Barang
siapa menikahi seorang perempuan hanya karena kemuliaannya, maka Allah tidak
akan menambah kepadanya kecuali kehinaan. Barang siapa menikahi seorang
perempuan karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kepadanya kecuali
kefakiran. Barang siapa menikahi perempuan hanya karena keturunnya, maka Allah
tidak akan menambah kepadanya kecuali kerendahan. Barang siapa menikahi seorang
perempuan karena ingin menjaga pandangan mata, memelihara farji dari perbuatan
zina, atau menyambung tali persaudaraan, maka Allah akan mencurahkan
kebarokahan keduanya.”(HR. Tabrani)
Bagi Perempuan :
Memilih
calon suami yang shalih dan berakhlak mulia, adalah suatu yang wajib bagi
seorang perempuan. Karena suami yang shalih dan berakhlak mulia lah, yang dapat
membimbing kelurga menuju surga. Bukan harta, kedudukan, dan pangkat yang
menjadi tolak ukuran dalam memilih calon suami, memilihlah calon suami yang
shalih dan berakhlak mulia. Ketika tolok ukurannya hanya masalah dunia,
tunggulah di saat kehancuran keluarga, karena harta dunia hanya suatu titipan
sementara, ketika Allah berkehendak mencabut harta dunia, maka keluarga yang
diharapkan kebahagiaan nya menjadi sebuah kehancuran. Mencarilah rezki
bersama-sama suami, sungguh suatu kebahagiaan yang luar biasa ketika mencapai kemulyaan dengan bersama-sama.
“Apabila
datang meminang kepadamu seorang lelaki yang kamu telah rela terhadap agama dan
akhlaknya, maka nikahkanlah putrimu dengannya. Bila tidak kamu nikahkan, maka
akan terjadi fitnah dan kerusakan yang meluas di muka bumi.” (HR. Tirmidzi). Hadist
ini memberikan pondasi yang kuat bagi seorang perempuan dalam menentukan calon
suami yang akan mendampingi dalam hidup berumah tangga.
Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya
“Dan
nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang
layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba sahayamu yang
perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.
Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”(QS. An-Nur :32)
Doc : K.L/5/16/Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya. A.
Mudjab Mahali
Langganan:
Komentar (Atom)
