Kisah Teladan
Keteladanan Fathimah binti Rasulillah
Fathimah binti Raulillah, dia adalah seorang wanita yang zuhud,
taat serta sabar dalam perjuangan menegakkan agama Allah, baik dengan tenaga
maupun jiwanya. Kefakiran di dalam rumah tangganya tidak dijadikan alasan untuk
putus asa, justru menjadi motivasi dalam pengabdian diri kepada Allah maupun
suaminya. Keteladanan agung yang diberikan Fathimah, bisa dicermati dari kisah
yang diketengahkan Abu Warad bin Tsumamah, yang menerangkan bahwa Ali bin Abi
Thalib telah berkata kepada Ibnu A’bad ; “Ya Ibna A’bad, maukah aku kabarkan
kepadamu tentang kehidupanku dengan Fathimah binti Rasulillah, yang dia adalah
anggota keluarga yang dicintai Rasulullah?” Aku (Ibnu A’bad) berkata: “Ya Ali,
tentu saja aku merasa senang mendengarnya.” Ali mulai bercerita: “Fathimah
menggiling tepung, hingga membekas di tangannya. Dia mengambil air dengan
geriba, hingga membekas di pundaknya. Dan dia menyapu rumah, hingga bajunya
berdebu. Suatu saat Rasulullah dihadiahi pembantu oleh seseorang. Lantas aku
berkata kepada Fathimah: “Ya Fathimah, bagaimana bila engkau datang menemui
ayah, meminta pembantu itu?” Fathimah pun kemudian datang menghadap ayahanda,
akan tetapi dia menemukan Rasulullah sedang sibuk sekali. Lalu dia kembali
dengan tangan kosong. Esok harinya, Rasulullah datang ke rumah, seraya
bersabda: “Ya Fathimah, kemarin engkau datang. Ada perlu apa?” Fathimah
terdiam. Lalu aku katakan: “Ya Rasulullah, aku yang akan menyampaikannya. Fathimah
menggiling tepung, hingga membekas di tangannya. Mengambil air, hingga membekas
di pundaknya. Dia menyapu rumah, hingga bajunya berdebu. Ketika ada pembantu
datang, aku menyuruhnya agar datang menghadap kepada engkau untuk meminta
pembantu itu, agar dia tidak mengerjakan pekerjaan berat yang selama ini dia
kerjakan.” Rasulullah lantas bersabda: “Ya Fathimah, bertakwalah kepada Allah. Tunaikanlah
kewajiban terhadap Tuhanmu, kerjakanlah tugas rumah tanggamu, dan ketika engkau
merebahkan tubuh (hendak tidur), bacalah tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid
tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, yang kemudian disempurnakan
hingga seratus kali dengan ditambah tahlil satu kali. Hal itu lebih baik bagimu
daripada seorang pembantu.” Fathimah kemudian berkata: “Aku ridho kepada Allah
dan Rasul-Nya, dan tidak memerlukan lagi seorang pembantu.”
Di atas adalah ilustrasi dari kesabaran seorang istri shalihah
dalam melayani kebutuhan suami. Meskipun tugas itu terasa sangat berat, namun
tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah, tidak sombong dan tidak tinggi hati,
sekalipun dia seorang anak dari manusia paling mulia, Rasulullah shallallahu
“alaihiwa sallam. Dia melayani suami
dengan tangan sendiri, tidak menuntut untuk dicarikan pembantu, yang bahkan
akan menambah beban suami dan menyulitkan hidupnya. Yang dia pertahankan
hanyalah keridhaan suami, karena dia sadar, bahwa sorga seorang wanita berada
dalam keridhaannya.
Keteladanan Zainab (istri Abdullah bin Mas”ud)
Sikap sabar dalam menghadapi kemiskinan suami, telah ditunjukkan
dengan begitu jelas oleh Zainab. Dia rela hidup dalam kekurangan, bahkan kesabarannya
dalam menopang kebutuhan hidup keluarga telah dia buktikan, dengan kerelaan
hati menjual perhiasannya. Betapa mulia seorang istri yang memiliki sikap sabar dan murah hati, dan betapa
bahagia yang memiliki istri semisal Zainab Ats-Tsaqafiyah. Dia pernah
menuturkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: “Wahai kaum Wanita, bersedekahlah sekalipun
dengan perhiasan kalian.” Lantas aku pulang “Ya Abdullah bin Mas,ud dan aku katakan kepadanya:
Ya Abdallah, engkau seorang lelaki lemah dan butuh pertolongan. Rasulullah
telah memerintahkan agar bersedakah. Ya Abdallah,
datanglah kepada Rasulullah dan tanyakan, apakah engkau boleh menerima sedekah dariku yang istrimu ini. Bila tidak boleh, maka aku akan bersedekah
kepada orang lain. Jawab Abdullah bin Mas’ud: “Ya Zainab, temui sendiri sajalah
Rasulullah.” Lantas aku berangkat, ternyata di depan pintu rumah Rasulullah
sudah ada seorang wanita Anshor yang menunggu, dan keperluannya sama dengan
keperluanku. Ketika iru Rasulullah sedang terganggu kesehatannya, hingga yang
keluar Bilal.
Kepada Bilal aku katakan: “Ya Bilal, temuilah Rasulullah, dan beritahukan
bahwa ada dua orang wanita di depan pintu, menanyakan kepadamu, apakah
diperbolehkan sedekah mereka diberikan kepada suami atau anak yatim di rumah
mereka sendiri. Dan jangan kabarkan kalau yang datang adalah kami” Setelah Bilal
menyampaikan berita, Rasulullah bertanya: “Siapakah mareka?" Jawab Bilal:
“Seorang Wanita Anshor dan Zainab”. Lalu Rasulullah bertanya lagi Zainab yang
mana?” Jawab Bilal: “Zainab istri Abdullah bin Mas'ud.” Lantas Rasulullah
bersabda: “Mereka mendapatkan dua pahala: pahala kekerabatan dan pahala
sedekah.” Inilah contoh kesetiaan dan kesabaran seorang istri terhadap suami
yang lemah ekonomi, karena sedekah kepada suami dibenarkan pula oleh ajaran
Islam. Zainab adalah sosok wanita sabar dan setia terhadap suami, sekalipun
suaminya lemah ekonomi lagi papa.
Penuturan di atas, adalah cermin keagungan istri dalam mencetak generasi
berkualitas, baik dari kalangan kaum wanita maupun kaum lelakinya. Istri shalihah
senantiasa berupaya menciptakan hubungan suami-istri yang baik atas dasar kasih
sayang dan ketulusan hati. Sebagai suami, bersedia mencurahkan segala kemampuan
dan potensi dengan penuh kemurahan dan ketulusan hati untuk membahagiakan
istri,sementara sang istri bersabar terhadap kekurangan yang ada pada diri
suami. Dia tidak menuntut sesuatu terhadap suami di atas kewajaran, tidak rakus
dan tidak ambisi terhadap gemerlapnya harta kekayaan, serta tidak mudah iri hati
terhadap sesuatu yang berada di tangan orang lain. Bahkan kedalaman cinta kasih
seorang istri direflekasikan dalam bentuk pemberian bantuan kepada suami, dan
menghibumya dengan mengorbankan harta yang paling berharga sekalipun, baik
berupa perhiasan maupun yang 1ain, dengan maksud agar kebahagiaan rumahtangga
bisa dinikmati bersama.
Dalam kehidupan umat manusia, sangat dibutuhkan adanya contoh teladan dalam
meraih suatu kebahagiaan. Lebih-lebih bagi istri yang ingin mencari keshalihahan
dalam berbakti kepada suami. Apa yang telah diketengahkan di atas, adalah
contoh-contoh keteladanan dari para wanita yang telah mampu menebarkan
kebahagiaan dan kedamaian di atas persada dunia. Mereka adalah profil istri
shalihah yang telah berhasil mempersembahkan kepada suami kebahagiaan, kedamaian,
ketentraman, serta mampu meredam derita dan kegelisahan. Dalam pada itu, perlu
dicatat tentang beberapa hal yang dapat dipetik dari keteladanan mereka, yang
kemudian dihayati, direnungkan, dan dilaksanakan oleh setiap istri shalihah,
hingga kebahagiaan dan kedamaian benar-benar tercipta dalam rumah tangganya.
Doc : K.L/I/6/16/Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya. A. Mudjab Mahali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar