Selasa, 31 Mei 2016

Kisah Teladan



Kisah Teladan

Keteladanan Fathimah binti Rasulillah

Fathimah binti Raulillah, dia adalah seorang wanita yang zuhud, taat serta sabar dalam perjuangan menegakkan agama Allah, baik dengan tenaga maupun jiwanya. Kefakiran di dalam rumah tangganya tidak dijadikan alasan untuk putus asa, justru menjadi motivasi dalam pengabdian diri kepada Allah maupun suaminya. Keteladanan agung yang diberikan Fathimah, bisa dicermati dari kisah yang diketengahkan Abu Warad bin Tsumamah, yang menerangkan bahwa Ali bin Abi Thalib telah berkata kepada Ibnu A’bad ; “Ya Ibna A’bad, maukah aku kabarkan kepadamu tentang kehidupanku dengan Fathimah binti Rasulillah, yang dia adalah anggota keluarga yang dicintai Rasulullah?” Aku (Ibnu A’bad) berkata: “Ya Ali, tentu saja aku merasa senang mendengarnya.” Ali mulai bercerita: “Fathimah menggiling tepung, hingga membekas di tangannya. Dia mengambil air dengan geriba, hingga membekas di pundaknya. Dan dia menyapu rumah, hingga bajunya berdebu. Suatu saat Rasulullah dihadiahi pembantu oleh seseorang. Lantas aku berkata kepada Fathimah: “Ya Fathimah, bagaimana bila engkau datang menemui ayah, meminta pembantu itu?” Fathimah pun kemudian datang menghadap ayahanda, akan tetapi dia menemukan Rasulullah sedang sibuk sekali. Lalu dia kembali dengan tangan kosong. Esok harinya, Rasulullah datang ke rumah, seraya bersabda: “Ya Fathimah, kemarin engkau datang. Ada perlu apa?” Fathimah terdiam. Lalu aku katakan: “Ya Rasulullah, aku yang akan menyampaikannya. Fathimah menggiling tepung, hingga membekas di tangannya. Mengambil air, hingga membekas di pundaknya. Dia menyapu rumah, hingga bajunya berdebu. Ketika ada pembantu datang, aku menyuruhnya agar datang menghadap kepada engkau untuk meminta pembantu itu, agar dia tidak mengerjakan pekerjaan berat yang selama ini dia kerjakan.” Rasulullah lantas bersabda: “Ya Fathimah, bertakwalah kepada Allah. Tunaikanlah kewajiban terhadap Tuhanmu, kerjakanlah tugas rumah tanggamu, dan ketika engkau merebahkan tubuh (hendak tidur), bacalah tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, yang kemudian disempurnakan hingga seratus kali dengan ditambah tahlil satu kali. Hal itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu.” Fathimah kemudian berkata: “Aku ridho kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak memerlukan lagi seorang pembantu.”
Di atas adalah ilustrasi dari kesabaran seorang istri shalihah dalam melayani kebutuhan suami. Meskipun tugas itu terasa sangat berat, namun tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah, tidak sombong dan tidak tinggi hati, sekalipun dia seorang anak dari manusia paling mulia, Rasulullah shallallahu “alaihiwa sallam.  Dia melayani suami dengan tangan sendiri, tidak menuntut untuk dicarikan pembantu, yang bahkan akan menambah beban suami dan menyulitkan hidupnya. Yang dia pertahankan hanyalah keridhaan suami, karena dia sadar, bahwa sorga seorang wanita berada dalam keridhaannya.

Keteladanan Zainab (istri Abdullah bin Mas”ud)

Sikap sabar dalam menghadapi kemiskinan suami, telah ditunjukkan dengan begitu jelas oleh Zainab. Dia rela hidup dalam kekurangan, bahkan kesabarannya dalam menopang kebutuhan hidup keluarga telah dia buktikan, dengan kerelaan hati menjual perhiasannya. Betapa mulia seorang istri yang memiliki  sikap sabar dan murah hati, dan betapa bahagia yang memiliki istri semisal Zainab Ats-Tsaqafiyah. Dia pernah menuturkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: “Wahai kaum Wanita, bersedekahlah sekalipun dengan perhiasan kalian.” Lantas aku pulang  “Ya Abdullah bin Mas,ud dan aku katakan kepadanya: Ya Abdallah, engkau seorang lelaki lemah dan butuh pertolongan. Rasulullah telah memerintahkan agar bersedakah. Ya Abdallah, datanglah kepada Rasulullah dan tanyakan, apakah engkau boleh menerima sedekah  dariku yang istrimu ini.  Bila tidak boleh, maka aku akan bersedekah kepada orang lain. Jawab Abdullah bin Mas’ud: “Ya Zainab, temui sendiri sajalah Rasulullah.” Lantas aku berangkat, ternyata di depan pintu rumah Rasulullah sudah ada seorang wanita Anshor yang menunggu, dan keperluannya sama dengan keperluanku. Ketika iru Rasulullah sedang terganggu kesehatannya, hingga yang keluar Bilal.
Kepada Bilal aku katakan: “Ya Bilal, temuilah Rasulullah, dan beritahukan bahwa ada dua orang wanita di depan pintu, menanyakan kepadamu, apakah diperbolehkan sedekah mereka diberikan kepada suami atau anak yatim di rumah mereka sendiri. Dan jangan kabarkan kalau yang datang adalah kami” Setelah Bilal menyampaikan berita, Rasulullah bertanya: “Siapakah mareka?" Jawab Bilal: “Seorang Wanita Anshor dan Zainab”. Lalu Rasulullah bertanya lagi Zainab yang mana?” Jawab Bilal: “Zainab istri Abdullah bin Mas'ud.” Lantas Rasulullah bersabda: “Mereka mendapatkan dua pahala: pahala kekerabatan dan pahala sedekah.” Inilah contoh kesetiaan dan kesabaran seorang istri terhadap suami yang lemah ekonomi, karena sedekah kepada suami dibenarkan pula oleh ajaran Islam. Zainab adalah sosok wanita sabar dan setia terhadap suami, sekalipun suaminya lemah ekonomi lagi papa.

Penuturan di atas, adalah cermin keagungan istri dalam mencetak generasi berkualitas, baik dari kalangan kaum wanita maupun kaum lelakinya. Istri shalihah senantiasa berupaya menciptakan hubungan suami-istri yang baik atas dasar kasih sayang dan ketulusan hati. Sebagai suami, bersedia mencurahkan segala kemampuan dan potensi dengan penuh kemurahan dan ketulusan hati untuk membahagiakan istri,sementara sang istri bersabar terhadap kekurangan yang ada pada diri suami. Dia tidak menuntut sesuatu terhadap suami di atas kewajaran, tidak rakus dan tidak ambisi terhadap gemerlapnya harta kekayaan, serta tidak mudah iri hati terhadap sesuatu yang berada di tangan orang lain. Bahkan kedalaman cinta kasih seorang istri direflekasikan dalam bentuk pemberian bantuan kepada suami, dan menghibumya dengan mengorbankan harta yang paling berharga sekalipun, baik berupa perhiasan maupun yang 1ain, dengan maksud agar kebahagiaan rumahtangga bisa dinikmati bersama.
Dalam kehidupan umat manusia, sangat dibutuhkan adanya contoh teladan dalam meraih suatu kebahagiaan. Lebih-lebih bagi istri yang ingin mencari keshalihahan dalam berbakti kepada suami. Apa yang telah diketengahkan di atas, adalah contoh-contoh keteladanan dari para wanita yang telah mampu menebarkan kebahagiaan dan kedamaian di atas persada dunia. Mereka adalah profil istri shalihah yang telah berhasil mempersembahkan kepada suami kebahagiaan, kedamaian, ketentraman, serta mampu meredam derita dan kegelisahan. Dalam pada itu, perlu dicatat tentang beberapa hal yang dapat dipetik dari keteladanan mereka, yang kemudian dihayati, direnungkan, dan dilaksanakan oleh setiap istri shalihah, hingga kebahagiaan dan kedamaian benar-benar tercipta dalam rumah tangganya.

Doc : K.L/I/6/16/Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya. A. Mudjab Mahali

Krisis Moral


Krisis Moral ?

Ya itulah Indonesia saat ini, negara ini sedang dilanda krisis moral, kemerosotan akhlak. Budi pekerti yang diagung-agungkan sejak dahulu seakan-akan sirna, budaya ke-timuran yang luhur perlahan-lahan hilang. Kita bisa melihat sekarang, banyak sekali kasus pelecehan, pembunuhan, pencurian dll dilakukan oleh para remaja, bahkan anak-anak. Mereka adalah generasi penerus bangsa ini, kalau generasi penerus bangsa ini sudah memiliki akhlak yang kurang baik, bagaimana kah kedepannya? kemanakah negara ini akan dibawa? Tanggung jawab siapa?
Semua itu adalah tanggung jawab bersama, pendidikan agama dan akhlak kepada generasi penerus bangsa ini wajib kita tanamkan sejak sedini mungkin. Apakah hanya tanggung jawab orang tua? Tidak, memang orang tua lah yang bertanggung jawab kepada mendidik anak agar menjadi manusia yang shalih-shalihah, berakhlak mulia dan berguna bagi bangsa-negara. Semua pihak harus bertanggung jawab dan saling bahu membahu demi generasi penerus kita. Keluarga, masyarakat, sekolah, pemerintah semuanya harus turut andil di dalam membangun karakter generasi penerus. Semua ini semata-mata demi generasi penerus bangsa ini yang religius, berakhlak mulia, dan mandiri,  Karena mereka lah pemegang tongkat estafet selanjutnya, baik bagi agama, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara ini.

Memilih Pasangan Hidup

Memilih Pasangan Hidup

Pernikahan merupakan sunatullah yang harus dijaga kelestariannya. Karena itu, di dalam Al-Qur’an Allah telah menegaskan : “Maka nikahilah olehmu sekalian perempuan-perempuan yang kalian sukai : dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian takut tidak dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang perempuan saja.” (QS. An-Nisa’:3)
Disyariatkannya pernikahan terkandung maksud agar agama seseorang semakin sempurna. Tapi, kini telah banyak manusia yang memilih kedudukan dan martabat dunia. Bukan hal yang mengherankan bila kini banyak terjadi perceraian. Mereka memandang bahwa hidup adalah uang dan kemegahan. Harta, tahta, dan wanita sebagai tolak ukur keberhasilan dalam mengarungi hidup, hingga dalam memilih jodoh selalu mengutamakan kekayaan material, keturunan dan kecantikan. Bagi mereka, hal tersebut merupakan prestise dalam mengarungi kehidupan di tengah masyarakat. Agama dan akhlak bukan lagi dijadikan ukuran, bahkan cemoohan. Dengan harta dan tahta mereka merasa hidup aman dan tenteram, terlepas dari belenggu kemiskinan dan kehinaan.
Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya untuk memilih pasangan yang kuat agama dan mulia akhlaknya. Beliau memperingatkan, jangan sampai memilih pasangan hidup berpaling dari masalah agama dan akhlak. Sebab bila berpaling, di kemudian hari akan berakibat munculnya fitnah dan kehancuran dalam rumah tangga. Keluarga yang harusnya diselimuti kebahagiaan akan berbalik menjadi sebuah kehancuran, lantaran salah satu dari pasangan suami-istri tidak berpegang teguh pada ajaran agama. Sebab ukuran kebahagiaan baginya hanya diukur ddengan kedudukan, harta, kecantikan, kegantengan atau lain. Akibatnya, bila semua itu sirna, keluarga akan berantakan. Lain halnya bila kebahagiaan diukur dengan agama dan akhlak mulia, semuanya tidak akan pernah sirna.

Memilih Karena Agama

Memilih karena agama, ini adalah faktor terpenting di dalam memilih pasangan hidup, suami-istri. Karena Islam adalah agama fitrah, yang sudah pasti mengedepankan kesucian, kemuliaan akhlak, dan nilai-nilai luhur dalam memilih segala sesuatu. Terlebih di dalam memilih pasangan hidup, harus memilih laki-laki yang shalih dan perempuan yang shalihah.

Bagi Laki-Laki :

“Sungguh dunia adalah harta kekayaan. Dan tidak ada harta kekayaan yang lebih berharga daripada wanita shalihah.” (HR. Ibnu Majah)
Wanita dinikahi oleh seorang lelaki karena empat hal. Dalam hal ini Rasulullah telah menegaskan “Seorang wanita dinikahi karena empat hal: Karena kekayaannya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Barang siapa lebih mengutamakan memilih agama, maka dia akan mendapatkan kemuliaan. (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah memberikan penilaian, bahwa wanita shalihah adalah karunia terbesar bagi seorang laki-laki.
“Setelah bertakwa kepada Allah, seorang mukmin tidak akan mendapatkan suatu faedah kecuali mempunyai istri yang shalihah. Yakni apanila diperintah, taat. Bila dipandang, menyenangkan. Bila dijanji pada awal pernikahan, menetapi. Dan bila ditinggal suami, menjaga kehormatan diri dan harta kekayaan suami.” (HR. Ibnu Majah)
“Barang siapa menikahi seorang perempuan hanya karena kemuliaannya, maka Allah tidak akan menambah kepadanya kecuali kehinaan. Barang siapa menikahi seorang perempuan karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kepadanya kecuali kefakiran. Barang siapa menikahi perempuan hanya karena keturunnya, maka Allah tidak akan menambah kepadanya kecuali kerendahan. Barang siapa menikahi seorang perempuan karena ingin menjaga pandangan mata, memelihara farji dari perbuatan zina, atau menyambung tali persaudaraan, maka Allah akan mencurahkan kebarokahan keduanya.”(HR. Tabrani)

Bagi Perempuan :

Memilih calon suami yang shalih dan berakhlak mulia, adalah suatu yang wajib bagi seorang perempuan. Karena suami yang shalih dan berakhlak mulia lah, yang dapat membimbing kelurga menuju surga. Bukan harta, kedudukan, dan pangkat yang menjadi tolak ukuran dalam memilih calon suami, memilihlah calon suami yang shalih dan berakhlak mulia. Ketika tolok ukurannya hanya masalah dunia, tunggulah di saat kehancuran keluarga, karena harta dunia hanya suatu titipan sementara, ketika Allah berkehendak mencabut harta dunia, maka keluarga yang diharapkan kebahagiaan nya menjadi sebuah kehancuran. Mencarilah rezki bersama-sama suami, sungguh suatu kebahagiaan yang luar biasa ketika  mencapai kemulyaan dengan bersama-sama.
“Apabila datang meminang kepadamu seorang lelaki yang kamu telah rela terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah putrimu dengannya. Bila tidak kamu nikahkan, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang meluas di muka bumi.” (HR. Tirmidzi). Hadist ini memberikan pondasi yang kuat bagi seorang perempuan dalam menentukan calon suami yang akan mendampingi dalam hidup berumah tangga.

Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”(QS. An-Nur :32)

Doc : K.L/5/16/Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya. A. Mudjab Mahali

Buah Jatuh tak Jauh dari Pohonnya


Peribahasa yang sering kita dengar, sifat anak tidak jauh dari orangtuanya ya itulah artinya. Memang tidak bisa dipungkiri anak akan meniru apa yang orang tua lakukan. Setiap hari anak berinteraksi dengan orang tuanya. Pendidikan akhlak lah yang utama.
Children Learn What They Live
- Bila seorang anak hidup dengan kritik, ia akan belajar menghukum.
- Bila seorang anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar kekerasan.
- Bila seorang anak hidup dengan ketakutan, ia akan belajar dengan rasa cemas.
- Bila seorang anak hidup dengan rasa kasihan, ia akan belajar mengasihani diri sendiri.
- Bila seorang anak hidup dengan kecemburuan, ia akan belajar untuk merasa iri.
- Bila seorang anak hidup dengan olokan, ia belajar menjadi malu.
- Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, ia belajar merasa bersalah.
- Bila seorang anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
- Bila seorang anak hidup dengan toleransi, ia belajar tentang kesabaran.
- Bila seorang anak hidup dengan pujian, ia belajar tentang penghargaan.
- Bila seorang anak hidup dengan penerimaan, ia belajar untuk mencintai.
- Bila seorang anak hidup dengan dukungan, ia belajar untuk menyukai diri sendiri.
- Bila seorang anak hidup dengan pengakuan, ia belajar untuk mempunyai tujuan.
- Bila seorang anak hidup dengan berbagi, ia belajar tentang kebaikan.
- Bila seorang anak hidup dengan kejujuran, ia belajar tentang kebenaran.
- Bila seorang anak hidup dengan keadilan, ia belajar menjalankan keadilan.
- Bila seorang anak hidup dengan kebaikan dan perhatian, ia belajar tentang menghormati.
- Bila seorang anak hidup dengan ketentraman, ia belajar tentang iman.
- Bila seorang anak hidup dengan persahabatan, ia belajar untuk mencintai dunia.
Dorothy Law Nolte, Ph.D. (1972)

Rabu, 18 Mei 2016

Perjalanan

Detik Perjalanan ini,
Waktu terus berputar, detik demi detik berlalu. jalan yang dilalui pun beragam, tidak terasa berat yang dipikul dapat dibawa dengan ringan. suatu ketika diri ini berada di bawah suatu ketika pula diri ini berada diatas. suatu siklus yang berjalan tanpa kita sadari. beban yang ringan akan terasa berat ketika kita berada di bawah, beban yang berat akan terasa ringan ketika  kita di atas. itulah kehidupan kita, kehidupan yang sebentar dan sejenak. hidup ini tidaklah lama, bukankah semua sudah ada catatannya dan garisnya masing-masing sebelum bumi diciptakan, takdir manusia sudah ada catatannya. mengapa kita harus putus asa, galau, menyerah ketika apa yang kita dambakan tidaklah tercapai??? bukankah ada Allah yang mampu merubah segalanya, seharusnya kita ini banyak bersyukur dan berdoa kepada Allah, tiada yang berat bagi Allah.